Sesaat Sebelum Mati

Jika Aku Menjadi : Walikota Bandung

Tanggal 10 Agustus nanti, segenap warga Bandung akan memilih secara langsung siapa tokoh yang memimpin Bandung. Berikut para calon walikota yang kini sedang ‘bertempur’ meraih simpatik warga.

Saya tidak akan melakukan justifikasi dengan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan setiap calon, karena saya percaya warga Bandung yang lain jauh lebih pintar dari saya dalam menentukan pemimpin kita nantinya. Siapa pun pemenangnya, diharapkan dapat membawa Bandung ke arah yang lebih baik.

Naha geuning kitu pamingpin teh?” (Kok gitu ternyata pemimpin kita?)

Ku naon Bandung teuh jadi kieu?” (Mengapa Bandung jadi seperti ini?)

Mana jangji basa kampanye kamari?” (Mana janji sewaktu kampanye?)

Daftar pertanyaan di atas sering kali terlontar saat pemimpin yang kita pilih ternyata tidak sesuai dengan harapan. Namun menyesal pun sudah terlambat saat itu. Maka, sebelum menyesal dikemudian hari, saya mencoba untuk berangan-angan apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi walikota Bandung periode 2008-2013. Mudah-mudahan menjadi doa yang dapat disampaikan pada para calon pemimpin kita. Perlu diingat, angan saya hanya berdasarkan pada apa yang saya lihat dan rasakan dengan kondisi Bandung saat ini, tentu tanpa memperhitungkan statistik dan segala permasalahan yang mungkin sengaja dibuat sesungguhnya di lapangan.

Pencemaran Udara

Masih berbekas dengan jelas di ingatan saya, dingin dan segarnya udara Bandung sehingga tiap kali saya pulang (hingga 4 SD saya bemukim di Tangerang) ke kota ini, jaket adalah perlengkapan penting menjelang tidur. Namun sekarang, apa Anda menyaksikan acara audisi Indonesia Idol beberapa waktu lalu yang disiarkan secara langsung, ketika itu dengan lantangnya sang pembawa acara berkata “Ternyata Bandung panas ya” dan pasangannya pun menjawab “Banget!!“. Padahal waktu saat itu baru menunjukkan pukul 8 pagi. Berikut langkah akan saya lakukan untuk mengembalikan kesegaran udara di Bandung:

  • Melakukan uji emisi terhadap semua jenis kendaraan (terutama angkutan umum -baca:BIS-) secara berkala. Dan hukuman untuk yang tidak lulus, ada dua pilihan: peremajaan atau larangan pengoperasian
  • Larangan merokok di angkutan umum, yang kemudian akan dikembangkan menjadi larangan merokok ditempat umum setelah pembangunan tempat-tempat khusus merokok (baca:bilik bebas merokok) selesai

  • Pengembalian fungsi daerah resapan air, jika Anda perhatikan banyak sekali taman-taman kota yang dibangun, tapi tidak jelas manfaat yang ingin dicapai, lihat taman Cikapayang, taman Pramuka, taman Telkom, adakah Anda merasa nyaman berada disana? Dari sedikit taman kota yang dapat menjadi resapan air ada taman Cilaki, taman Maluku, Taman Ganesha namun kondisinya memprihatinkan dengan sampah menjadi hiasannya. Dan bagaimana dengan pepohonan di daerah Dago atas hingga Lembang, tanyakan kepada para pengembang property yang membabi-buta menggantinya menjadi lapisan semen

Kebersihan Kota

Sejak tragedi Leuwigajah -sebagai bukti ketidakseriusan menangani sampah- yang sangat memilukan, Bandung tidak lagi memiliki ‘tempat sampah’ untuk menampung hasil dari ‘keserakahan‘ warganya. Hal yang sering dilupakan orang adalah, sampah itu komoditi, peluang usaha dan dapat menjadi sumber devisa daerah yang tidak sedikit. Syaratnya, kelola dengan baik.

  • Penyediaan tempat sampah di jalan-jalan kota. Pernah saya membawa sampah bekas minuman dari daerah Dayeuh Kolot (Bandung Selatan) dengan niat membuangnya di tempat sampah yang tersedia sepanjang perjalanan pulang. Dan saya baru berhasil menemukannya (tempat sampah -red) di rumah saya di daerah Sukamiskin (Bandung Timur). Cara penyediaan tempat sampah ini bisa dikatakan mudah, lakukan kerja sama dengan sponsor (mulai dari produk sabun kebersihan kulit hingga produk rokok), dimana mereka menyediakan tong sampah yang berisi promosi untuk menggunakan produk tersebut. Iklan untuk mereka dan kebersihan untuk kita. Jangan lupa bahwa jenis tempah sampah ini dibagi menjadi dua bagian, untuk sampah organik dan sampah anorganik
  • Pemberdayaan usaha daur ulang, seperti saya sebut sebelumnya, sampah adalah komoditi. Setelah pengadaan tempat sampah, saya akan melakukan sosialisasi pada masyarakat pentingnya membagi sampah organik dan anorganik dan menjelaskan bahwa sampah bisa menghasilkan uang. Detail pengolahannya seperti ini, atau ini.
  • Pangbersihna Award (penghargaan daerah terbersih). Setelah pembelajaran, saya adakan kompetisi daerah terbersih, cakupannya dapat per-kelurahan untuk meningkatkan rasa memiliki di setiap diri warga Bandung. Bandung Milik Kita, bukan Hanya Kamu dan Saya.
  • Mendukung penuh komunitas cinta Bandung. Menjaga dan memelihara Bandung bukan hanya tugas pemerintah. Bandung kotor bukan hanya salah walikota, oleh karena itu saya akan mendorong komunitas-komunitas yang ada untuk lebih terlibat memelihara Bandung. Pemerintah sangat membutuhkan kaum muda seperti komunitas Batagor.net, para pemuda Karang Taruna, hingga komunitas bobotoh Persib untuk selalu memberikan kreasi dan inovasi demi kemajuan kota Bandung

Kualitas Sumber Daya Daerah

Penduduk kota Bandung yang berjumlah 3.210.982 jiwa 167,67 km² adalah sumber daya potensial yang dapat digali untuk memperbesar pendapatan daerah Bandung. Namun kondisi saat ini, sebagian besar dari mereka masih termasuk golongan konsumtif, hanya bisa meminta, menggunakan tanpa bisa menghasilkan. Oleh karena itu, saya sebagai walikota Bandung mencoba untuk ‘membangunkan’ potensi-potensi yang tersembunyi di tiap-tiap diri warga Bandung.

  • Urang Bandung Award, yaitu penghargaan yang diberikan pada warga Bandung yang berprestasi dan mengharumkan kota Bandung di bidang apapun. Salah satu episode Kick Andy mengenai sekelompok anak muda Bandung yang terkatung-katung di Eropa seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para ‘pejuang‘ budaya ini, mengingat mereka membawa nama Bandung (Indonesia -red) melalui konser budaya angklungnya. Diharapkan penghargaan ini akan memacu semangat untuk dapat terus berprestasi.
  • Menonjolkan kembali kegiatan Karang Taruna. Pemerintah tidak dapat setiap saat memantau warga di daerah, disinilah karang taruna berfungsi sebagai tonggak kemajuan daerah, sarana aspirasi dan benteng pertahanan dari segala penyakit masyarakat seperti narkoba, miras, geng motor hingga perkelahian antar warga.
  • Pembenahan daerah wisata. Terdapat banyak sekali tempat wisata di Bandung. Untuk wisata alam ada Maribaya, Tangkuban Perahu, Situ Lembang namun masih kurangnya fasilitas pelayanan publik menyebabkan tempat ini relatif sepi dari pengunjung, terutama akes untuk masuk. Khusus Maribaya, untuk buang air kecil pun sangat agak sulit. Setelah melengkapi fasilitas serta mempermudah akses, promosi merupakan hal yang tak kalah penting, dan situs-situs seperti http://www.thebandung.com/, http://www.visitbandung.net/ harus dapat menjadi penarik minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
  • Mendidik masyarakat produktif. Bukan mencarikan lapangan pekerjaan melainkan melatih warga Bandung agar dapat menciptakan lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain. Perlu diperhatikan, saya sebagai walikota tidak akan menyediakan sekolah umum gratis, dan sebagai gantinya saya akan menjadi fasilitator untuk warga yang ingin menjadi pengusaha. Caranya, pelatihan bengkel untuk mereka yang gemar ngoprek kendaraan, penyuluhan bercocok tanam dan berternak untuk yang tertarik menggeluti agrobisnis atau bisa disalurkan ke usaha pengolahan sampah seperti disebut di atas. Satu yang saya gratiskan adalah buku membaca dan berhitung dengan membeli hak paten dari penulis untuk semua anak di kota Bandung.

Transparansi dan Kemudahan Birokrasi

Tindakan kejahatan dapat terjadi karena ada kesempatan, begitu slogan salah satu acara di televisi. Ini juga yang mendorong saya untuk melakukan transparansi birokrasi, nantinya semua warga dapat ikut menyaksikan maju mundurnya kota Bandung tercinta ini. Intinya tidak ada kesempatan untuk korupsi.

  • Kemudahan Birokrasi. Zaman dimana kita menghabiskan waktu untuk mengurus dokumen kemasyarakatan sudah harus ditinggalkan. Ide seperti ini yang bertujuan memutus rantai birokrasi yang terlalu berbelit-belit perlu diangkat, juga keberhasilan POLRI melalui sistem jemput bola (dalam hal pengurusan surat kendaraan) dan kebijakan satu atap Dirjen Pajak akan saya terapkan secara bertahap di birokrasi kota Bandung.
  • Transparansi birokrasi. Saya bertekad membangun sistem penghubung antara walikota dengan lurah, camat, kepala desa, ketua rw bahkan ketua rt agar dapat mendengarkan secara langsung pendapat mereka mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah daerah. Caranya cukup sederhana, hanya dengan teknologi SMS Gateway. Setelah data tiap pemimpin wilayah tersebut disimpan, maka ketua rt pun dapat menyalurkan pendapatnya ke SMS center yang akan dipantau tim khusus di bawah wewenang saya langsung. Masih kurang, di hari Sabtu terakhir setiap bulan akan diadakan open house di kantor walikota di mana semua lapisan masyarakat dapat hadir dan tentunya akan ditayangkan secara langsung oleh salah satu televisi lokal seperti TVRI Bandung, Bandung TV, STV, MQ TV. Diharapkan peran media ini dapat turut menciptakan warga Bandung yang kritis, dinamis dan mandiri.

Demikian angan saya jika menjadi walikota Bandung, khususnya periode 2008-2013 ini. Apabila ada hal-hal yang dianggap impossible, mari kita sama-sama berusaha untuk menjadikannya mungkin. Untuk angan yang tidak relevan, mohon dimaafkan karena itulah yang saya rasakan dan inginkan untuk kota Bandung. Dan yang terpenting, bila ada angan yang lebih membanggakan (bukan berarti saya membanggakan) silahkan diutarakan agar calon pemimpin kita mengetahui kita bukan hanya dari tatapan kita saat mereka kampanye, tapi tahu benar apa yang kita harapkan.

*Sebuah harapan dari seorang warga Bandung*

August 3, 2008 Posted by Rully Patria | Opini, Pengalaman Hidup | | 47 Comments