Sesaat Sebelum Mati

Selamatkan Babakan Siliwangi!

Sepertinya ada yang salah dengan cara pandang pemimpin Bandung dalam usaha memajukan kota yang kita cintai ini. Wacana mengubah sebagian wilayah babakan siliwangi menjadi rumah makan menimbulkan pertanyaan besar. Berikut kutipan dari artikel karya Kang Aswi yang menarik untuk dicermati,

Banyak yang tidak paham bahwa ciri kota yang sakit adalah banyaknya mall-mall yang berdiri karena pembangunan mall dipastikan telah memangkas ruang publik. Kota yang baik adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya. Kota yang baik membutuhkan tempat untuk masyarakatnya dapat berjalan kaki, sehingga mereka bisa berkumpul bersama. Kota yang baik harus menghormati harga diri manusia. Bahkan di kota-kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama..”

Babakan Siliwangi merupakan satu dari sedikit area hijau di kota Bandung yang masih tersisa dan sudah seharusnya menjadi daerah resapan air. Apa belum cukup tempat wisata kuliner di kota ini sehingga pemerintah merasa perlu mendirikan satu lagi tempat makan? Ya benar, sekadar tempat makan yang mengatasnamakan kepentingan bisnis penghasil uang untuk si empunya dalam hal ini PT Esa Gemilang Indah (Istana Group).

Mari Bergerak!

Sebuah petisi online mengenai babakan siliwangi telah didengungkan. Jika Anda termasuk yang tidak setuju dengan rencana pendirian rumah makan di kawasan babakan siliwangi ini dapat menyalurkan pendapat Anda melalui petisi online di Save Babakan Siliwangi. Mari bergerak demi kota Bandung yang sama-sama kita cintai ini.

Tong cicing wae atuh, hayu bebenah Bandung. SAHA DEUI LAMUN LAIN URANG!

Lihat juga:

1. Save Babakan Siliwangi : Manifesto Babakan Siliwangi
2. AA Arman : Selamat Tinggal Babakan Siliwangi?
3. Jalan Kita : Selamatkan Babakan Siliwangi
4. Kang Wahyu Wijayanto : Babakan Siliwangi
5. Kang Kemal : Save Babakan Siliwangi
6. Kang Ridwansyah Yusuf Achmad : Doa untuk Babakan Siliwangi
7. Kang Radix Hidayat : Selamatkan Babakan Siliwangi!
8. Kang Budi Rahardjo : Hutan Lebat Siliwangi Mau Dijadikan Mall(PvJ Part 2)?
9. Teh Lia : Selamatkan Babakan Siliwangi
10. Kang Septian Setyoko : Selamatkan Baksil Kita!!!
11. Kang Arthur : Baksil ohh Baksil
12. Kang Adrian Priambudi : Selamatkan Baksil Juga
13. Teh Shally Pristine : Selamatkan Babakan Siliwangi, Kami Tidak Butuh Mal Baru!
14. Kang M. Yorga : Selamatkan Babakan Siliwangi

(Ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap kota Bandung yang saya cintai)

Advertisements

September 13, 2008 Posted by | Opini, Pengalaman Hidup | , , , , , | 67 Comments

FLEXI Lebih Butuh Konsistensi ketimbang Inovasi

Surat Pelanggan:

Cuma FLEXI yang bisa BEGINIIIII

Ada yang belum pernah mendengar iklan FLEXI dengan jingle seperti di atas?

Baru-baru ini salah satu operator CDMA besutan Telkom, Flexi, memberikan promo berupa bebas biaya telepon antar sesama pengguna Flexi di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Tujuan dari promo ini sebenarnya sudah dapat ditebak. Pertama, apalagi jika bukan untuk merebut pelanggan baru. Pertanyaan yang muncul di benak saya, pada iklan Flexi tersebut tidak dicantumkan batas berlaku dari acara gratisan ini, nah apa benar akan berlaku selamanya? Apa Telkom sudah cukup untung dari sekadar biaya aktivasi pelanggan baru (pembelian kartu perdana -red)? Tujuan kedua bisa dicermati dengan akan datangnya bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri, mungkin –karena saya bukan pembuat kebijakan- manajemen FLEXI ingin menguji ketahanan dari sistem yang mereka punya. Tentu saja pelanggan akan berduyung-duyung menelepon sepanjang hari jika gratis bukan, berdasar dalil itulah pengujian dilakukan dengan metode stress point (tolong koreksi jika saya salah menggunakan istilah ini) apakah sistem saat ini mampu menampung beban pelanggan yang menumpuk disaat bersamaan.

Sinyal Naik Turun

Namun ada hal lebih penting yang sepertinya dilupakan oleh sang-pembuat-kebijakan, yaitu mempertahankan pelanggan. Saya pribadi selaku pengguna flexi agak sangat kecewa dengan kualitas sinyal yang saya terima. Sebagai informasi, saya bertempat tinggal di daerah Sukamiskin Bandung dari Cicaheum naek angkot Caheum-Cileunyi berhenti di Sindanglaya trus bilang aja ke tukang ojek mo ke rumah bagja 😀 di mana sinyal flexi bak roller coaster Dufan yang naik turun ga karuan. Sinyal penuh hanya saat tidak digunakan, jika dipakai si sinyal ini seringkali bergerak ke level terendah dan dengan tak tahu malu memutuskan pembicaraan yang mungkin penting dari sang pelanggan yang mungkin setia ini.

Fasilitas Combo Error

Lain kasus saat saya ingin bertamasya -kamaaana atuh tamasya- ke Bekasi. Kali ini fasilitas combo yang menguji kesetiaan saya pada Flexi. Setelah ON 021 ke 777 tidak ada balasan, saya menelepon CSO dan mendapat jawaban bahwa fasilitas combo sedang tidak dapat digunakan untuk nomor yang saya pakai what, apa, naon!! seistimewa itukah nomor saya? dan akan dicarikan solusi secepatnya Nah, pas lagi asik-asiknya ngobrol sama CSO, si sinyal-tak-tahu-malu datang lagi memutuskan koneksi. Bukan level terendah Bung, melainkan status pencarian yang tertera. (Di tol Cipularang tidak begitu jauh dari pintu tol Kopo Bandung)

Flexitone

Saat mendaftarkan diri untuk mendapatkan fasilitas flexitone, saya menemukan keanehan lagi. Call ke *1212 saya memilih menu untuk pendaftaran baru dan berikut pesan yang saya terima:

“Sorry an Error has been **** this dial will be TERMINATED…”

penasaran, saya hubungi lagi CSO FLEXI yang berujar, “Kalo mas udah nerima pesan seperti itu, artinya pendaftaran Flexitone mas berhasil…”. Hm, salah satu strategi penarik minat pelanggan kah ini?

Sudah sebaiknya FLEXI lebih mementingkan konsistensi dengan menyempurnakan fasilitas demi kenyamanan pelanggan daripada sekadar menawarkan inovasi tanpa landasan fungsional utama yang kuat. Toh, pelanggan dapat menilai sendiri pilihan operator terbaik yang dapat memberi mereka kepuasan. Jika hal dasar seperti ini terpenuhi, niscaya inovasi seperti gratis biaya telepon, Fleximilis, Flexiland, Flexi Mesra dan inovasi lainnya akan menjadi pelengkap yang sangat menyenangkan.

(Ditulis semata-mata sebagai kritik untuk peningkatan kualitas FLEXI agar semakin dapat diterima oleh masyarakat)

August 26, 2008 Posted by | Opini | , , , , , , | 46 Comments

GOLPUT sama dengan PENGECUT

Pemilihan walikota Bandung telah selesai, meskipun belum memasuki acara pelantikan bolehlah saya mengucapkan selamat kepada Walikota dan Wakil Walikota terpilih. Ada satu catatan yang saya sesalkan pada pelaksanaan Pilwalkot kali ini yaitu tingginya angka GOLPUT, atau warga Bandung yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pada situs resmi KPU Kota Bandung, terlihat bahwa jumlah GOLPUT sebanyak 456.428 warga atau sekitar 30,19 %.

GOLPUT memang sebuah pilihan, namun dari sudut pandang seorang Rully bagja Patria itu adalah sebuah pilihan PENGECUT. Pilihan dari manusia-manusia yang terlalu takut salah, tidak memiliki keberanian, apatis, individualis dan egois. Golongan inilah yang akan berada paling depan untuk menghujat saat pemimpin terpilih ternyata tidak sesuai harapan.

Bener kan apa yang gua bilang

Untung gua ga milih

Sama aja kan kayak yang dulu-dulu, janji doank bisanya

Bukankah jauh lebih baik berbuat dan mengalami kegagalan daripada tidak berbuat apa-apa?

Bukankah jauh lebih terhormat ikut terlibat daripada hanya sekadar menghujat?

Kita tidak akan melihat Bandung menjadi lebih baik dengan hanya diam. Jika sang-golongan-pengecut ini beralasan bahwa tidak tersedianya pilihan yang sesuai dengan hati mereka, saya akan menjawab, bukankah lebih mulia jika kita memilih yang paling baik di antara yang buruk daripada kita hanya tertunduk saat melihat yang paling buruk maju sebagai pemenang?

Dan jika sang-golongan-pengecut ini kembali berkata bahwa golput itu pilihan yang harus saya hargai karena ini negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, saya menjawab, karena azas demokrasi itulah saya berpendapat bahwa GOLPUT sama dengan PENGECUT.

Untuk yang tidak setuju dengan saya, silahkan berpendapat.

(Ditulis sebagai bentuk kekecewaan terhadap 456.428 warga Bandung yang memilih untuk menjadi PENGECUT)

August 17, 2008 Posted by | Opini | , , , , | 64 Comments

Jika Aku Menjadi : Walikota Bandung

Tanggal 10 Agustus nanti, segenap warga Bandung akan memilih secara langsung siapa tokoh yang memimpin Bandung. Berikut para calon walikota yang kini sedang ‘bertempur’ meraih simpatik warga.

Saya tidak akan melakukan justifikasi dengan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan setiap calon, karena saya percaya warga Bandung yang lain jauh lebih pintar dari saya dalam menentukan pemimpin kita nantinya. Siapa pun pemenangnya, diharapkan dapat membawa Bandung ke arah yang lebih baik.

Naha geuning kitu pamingpin teh?” (Kok gitu ternyata pemimpin kita?)

Ku naon Bandung teuh jadi kieu?” (Mengapa Bandung jadi seperti ini?)

Mana jangji basa kampanye kamari?” (Mana janji sewaktu kampanye?)

Daftar pertanyaan di atas sering kali terlontar saat pemimpin yang kita pilih ternyata tidak sesuai dengan harapan. Namun menyesal pun sudah terlambat saat itu. Maka, sebelum menyesal dikemudian hari, saya mencoba untuk berangan-angan apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi walikota Bandung periode 2008-2013. Mudah-mudahan menjadi doa yang dapat disampaikan pada para calon pemimpin kita. Perlu diingat, angan saya hanya berdasarkan pada apa yang saya lihat dan rasakan dengan kondisi Bandung saat ini, tentu tanpa memperhitungkan statistik dan segala permasalahan yang mungkin sengaja dibuat sesungguhnya di lapangan.

Pencemaran Udara

Masih berbekas dengan jelas di ingatan saya, dingin dan segarnya udara Bandung sehingga tiap kali saya pulang (hingga 4 SD saya bemukim di Tangerang) ke kota ini, jaket adalah perlengkapan penting menjelang tidur. Namun sekarang, apa Anda menyaksikan acara audisi Indonesia Idol beberapa waktu lalu yang disiarkan secara langsung, ketika itu dengan lantangnya sang pembawa acara berkata “Ternyata Bandung panas ya” dan pasangannya pun menjawab “Banget!!“. Padahal waktu saat itu baru menunjukkan pukul 8 pagi. Berikut langkah akan saya lakukan untuk mengembalikan kesegaran udara di Bandung:

  • Melakukan uji emisi terhadap semua jenis kendaraan (terutama angkutan umum -baca:BIS-) secara berkala. Dan hukuman untuk yang tidak lulus, ada dua pilihan: peremajaan atau larangan pengoperasian
  • Larangan merokok di angkutan umum, yang kemudian akan dikembangkan menjadi larangan merokok ditempat umum setelah pembangunan tempat-tempat khusus merokok (baca:bilik bebas merokok) selesai

  • Pengembalian fungsi daerah resapan air, jika Anda perhatikan banyak sekali taman-taman kota yang dibangun, tapi tidak jelas manfaat yang ingin dicapai, lihat taman Cikapayang, taman Pramuka, taman Telkom, adakah Anda merasa nyaman berada disana? Dari sedikit taman kota yang dapat menjadi resapan air ada taman Cilaki, taman Maluku, Taman Ganesha namun kondisinya memprihatinkan dengan sampah menjadi hiasannya. Dan bagaimana dengan pepohonan di daerah Dago atas hingga Lembang, tanyakan kepada para pengembang property yang membabi-buta menggantinya menjadi lapisan semen

Kebersihan Kota

Sejak tragedi Leuwigajah -sebagai bukti ketidakseriusan menangani sampah- yang sangat memilukan, Bandung tidak lagi memiliki ‘tempat sampah’ untuk menampung hasil dari ‘keserakahan‘ warganya. Hal yang sering dilupakan orang adalah, sampah itu komoditi, peluang usaha dan dapat menjadi sumber devisa daerah yang tidak sedikit. Syaratnya, kelola dengan baik.

  • Penyediaan tempat sampah di jalan-jalan kota. Pernah saya membawa sampah bekas minuman dari daerah Dayeuh Kolot (Bandung Selatan) dengan niat membuangnya di tempat sampah yang tersedia sepanjang perjalanan pulang. Dan saya baru berhasil menemukannya (tempat sampah -red) di rumah saya di daerah Sukamiskin (Bandung Timur). Cara penyediaan tempat sampah ini bisa dikatakan mudah, lakukan kerja sama dengan sponsor (mulai dari produk sabun kebersihan kulit hingga produk rokok), dimana mereka menyediakan tong sampah yang berisi promosi untuk menggunakan produk tersebut. Iklan untuk mereka dan kebersihan untuk kita. Jangan lupa bahwa jenis tempah sampah ini dibagi menjadi dua bagian, untuk sampah organik dan sampah anorganik
  • Pemberdayaan usaha daur ulang, seperti saya sebut sebelumnya, sampah adalah komoditi. Setelah pengadaan tempat sampah, saya akan melakukan sosialisasi pada masyarakat pentingnya membagi sampah organik dan anorganik dan menjelaskan bahwa sampah bisa menghasilkan uang. Detail pengolahannya seperti ini, atau ini.
  • Pangbersihna Award (penghargaan daerah terbersih). Setelah pembelajaran, saya adakan kompetisi daerah terbersih, cakupannya dapat per-kelurahan untuk meningkatkan rasa memiliki di setiap diri warga Bandung. Bandung Milik Kita, bukan Hanya Kamu dan Saya.
  • Mendukung penuh komunitas cinta Bandung. Menjaga dan memelihara Bandung bukan hanya tugas pemerintah. Bandung kotor bukan hanya salah walikota, oleh karena itu saya akan mendorong komunitas-komunitas yang ada untuk lebih terlibat memelihara Bandung. Pemerintah sangat membutuhkan kaum muda seperti komunitas Batagor.net, para pemuda Karang Taruna, hingga komunitas bobotoh Persib untuk selalu memberikan kreasi dan inovasi demi kemajuan kota Bandung

Kualitas Sumber Daya Daerah

Penduduk kota Bandung yang berjumlah 3.210.982 jiwa 167,67 km² adalah sumber daya potensial yang dapat digali untuk memperbesar pendapatan daerah Bandung. Namun kondisi saat ini, sebagian besar dari mereka masih termasuk golongan konsumtif, hanya bisa meminta, menggunakan tanpa bisa menghasilkan. Oleh karena itu, saya sebagai walikota Bandung mencoba untuk ‘membangunkan’ potensi-potensi yang tersembunyi di tiap-tiap diri warga Bandung.

  • Urang Bandung Award, yaitu penghargaan yang diberikan pada warga Bandung yang berprestasi dan mengharumkan kota Bandung di bidang apapun. Salah satu episode Kick Andy mengenai sekelompok anak muda Bandung yang terkatung-katung di Eropa seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para ‘pejuang‘ budaya ini, mengingat mereka membawa nama Bandung (Indonesia -red) melalui konser budaya angklungnya. Diharapkan penghargaan ini akan memacu semangat untuk dapat terus berprestasi.
  • Menonjolkan kembali kegiatan Karang Taruna. Pemerintah tidak dapat setiap saat memantau warga di daerah, disinilah karang taruna berfungsi sebagai tonggak kemajuan daerah, sarana aspirasi dan benteng pertahanan dari segala penyakit masyarakat seperti narkoba, miras, geng motor hingga perkelahian antar warga.
  • Pembenahan daerah wisata. Terdapat banyak sekali tempat wisata di Bandung. Untuk wisata alam ada Maribaya, Tangkuban Perahu, Situ Lembang namun masih kurangnya fasilitas pelayanan publik menyebabkan tempat ini relatif sepi dari pengunjung, terutama akes untuk masuk. Khusus Maribaya, untuk buang air kecil pun sangat agak sulit. Setelah melengkapi fasilitas serta mempermudah akses, promosi merupakan hal yang tak kalah penting, dan situs-situs seperti http://www.thebandung.com/, http://www.visitbandung.net/ harus dapat menjadi penarik minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
  • Mendidik masyarakat produktif. Bukan mencarikan lapangan pekerjaan melainkan melatih warga Bandung agar dapat menciptakan lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain. Perlu diperhatikan, saya sebagai walikota tidak akan menyediakan sekolah umum gratis, dan sebagai gantinya saya akan menjadi fasilitator untuk warga yang ingin menjadi pengusaha. Caranya, pelatihan bengkel untuk mereka yang gemar ngoprek kendaraan, penyuluhan bercocok tanam dan berternak untuk yang tertarik menggeluti agrobisnis atau bisa disalurkan ke usaha pengolahan sampah seperti disebut di atas. Satu yang saya gratiskan adalah buku membaca dan berhitung dengan membeli hak paten dari penulis untuk semua anak di kota Bandung.

Transparansi dan Kemudahan Birokrasi

Tindakan kejahatan dapat terjadi karena ada kesempatan, begitu slogan salah satu acara di televisi. Ini juga yang mendorong saya untuk melakukan transparansi birokrasi, nantinya semua warga dapat ikut menyaksikan maju mundurnya kota Bandung tercinta ini. Intinya tidak ada kesempatan untuk korupsi.

  • Kemudahan Birokrasi. Zaman dimana kita menghabiskan waktu untuk mengurus dokumen kemasyarakatan sudah harus ditinggalkan. Ide seperti ini yang bertujuan memutus rantai birokrasi yang terlalu berbelit-belit perlu diangkat, juga keberhasilan POLRI melalui sistem jemput bola (dalam hal pengurusan surat kendaraan) dan kebijakan satu atap Dirjen Pajak akan saya terapkan secara bertahap di birokrasi kota Bandung.
  • Transparansi birokrasi. Saya bertekad membangun sistem penghubung antara walikota dengan lurah, camat, kepala desa, ketua rw bahkan ketua rt agar dapat mendengarkan secara langsung pendapat mereka mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah daerah. Caranya cukup sederhana, hanya dengan teknologi SMS Gateway. Setelah data tiap pemimpin wilayah tersebut disimpan, maka ketua rt pun dapat menyalurkan pendapatnya ke SMS center yang akan dipantau tim khusus di bawah wewenang saya langsung. Masih kurang, di hari Sabtu terakhir setiap bulan akan diadakan open house di kantor walikota di mana semua lapisan masyarakat dapat hadir dan tentunya akan ditayangkan secara langsung oleh salah satu televisi lokal seperti TVRI Bandung, Bandung TV, STV, MQ TV. Diharapkan peran media ini dapat turut menciptakan warga Bandung yang kritis, dinamis dan mandiri.

Demikian angan saya jika menjadi walikota Bandung, khususnya periode 2008-2013 ini. Apabila ada hal-hal yang dianggap impossible, mari kita sama-sama berusaha untuk menjadikannya mungkin. Untuk angan yang tidak relevan, mohon dimaafkan karena itulah yang saya rasakan dan inginkan untuk kota Bandung. Dan yang terpenting, bila ada angan yang lebih membanggakan (bukan berarti saya membanggakan) silahkan diutarakan agar calon pemimpin kita mengetahui kita bukan hanya dari tatapan kita saat mereka kampanye, tapi tahu benar apa yang kita harapkan.

*Sebuah harapan dari seorang warga Bandung*

August 3, 2008 Posted by | Opini, Pengalaman Hidup | 47 Comments

Avatar : The Legend of Aang, dan akhir yang mengesankan

Terima kasih saya ucapkan kepada saudara Abah, karena atas jasa-jasanya saya dapat menyaksikan kelanjutan dari serial Avatar ini. Hm.. pidatois ( kalau romantis berarti seseorang menganut paham roman, pidatois itu artinya… )

Ternyata ngga sia-sia juga ngikutin film ini dari awal, setelah sempet vakum karena berbagai masalah yang terjadi pada segelintir penulis naskah Amrik sana, akhirnya saya bisa melihat akhir dari perjalanan si Aang ini. Meskipun mungkin banyak dari temen-temen yang sudah terlebih dulu menyaksikannya.

Keren, maknyus, kutukupret lah pokoknya ?!?!, ini kali kedua saya bengong di depan sebuah film dengan melihat pertarungan antara Aang dan Fire Lord. Bengong yang pertama pas lihat berantemnya Achilles dengan Hector di film Troy yang berakhir dengan kematian Hector 😦 . Saya ngga akan panjang lebar menceritakan isi filmnya, takut jadi spoiler buat yang belum nonton, lagipula rasa penasaran itu yang bikin tambah seru…

Serial ini diciptakan oleh sepasang pemuda, Michael DiMartino dan Bryan Konietzko yang mengambil ide tentang 4 elemen kehidupan di dunia ini. Udara, air, tanah, dan api menciptakan keseimbangan alam jika berjalan selaras, namun saat salah satu elemen saja rusak, maka akan terjadi kehancuran. Untuk lebih lengkapnya mengenai latar belakang cerita ini dapat dilihat di sini.

Nah, sekarang apa ada di antara kita yang berniat untuk menciptakan tokoh Aang yang lain, ngga usah jauh-jauh, misalnya membuat legenda mengenai si Pitung yang bisa ditonton dan digemari seluruh dunia…sepertinya banyak tuch yang dapat dikreasikan menjadi semenarik mungkin. Jauh lebih banyak dari macam-macam setan/hantu yang sudah terlebih dahulu memasuki dunia hiburan….

Ayo mulai bermimpi, berimajinasi, berkreasi dan berprestasi… 😛

July 25, 2008 Posted by | Opini | 25 Comments

Hentikan Tayangan KRIMINAL di Televisi !

Pembunuhan berantai, perilaku mutilasi, penculikan, pemerkosaan, pencabulan dan berbagai tindakan terkutuk lainnya banyak sekali kita saksikan di televisi. Setiap hari kita selalu dijejali dengan berita yang membuat kita mengernyitkan dahi.

Apa ada guna dan manfaatnya?

Tolong jelaskan kepada saya jika ada di antara Anda yang menganggap itu berguna. Untuk meningkatkan kewaspadaan, begitu alasan semua stasiun televisi.

Lalu untuk apa mereka menayangkan setiap langkah dan tahapan yang dilakukan oleh seorang pelaku mutilasi?

Apa contoh kewaspadaan yang dapat kita tiru saat semua stasiun televisi itu menceritakan secara rinci kronologis dari pembunuhan yang dilakukan, bagaimana pelaku menikam korbannya puluhan kali, atau saat pelaku membersihkan darah dan membuang mayat korban ke sebuah selokan?

Saat tindakan penculikan, pemerkosaan diungkap sedemikian jelas, mana yang lebih besar pengaruhnya, peringatan kepada kita untuk lebih menjaga diri, atau penjelasan untuk para calon-calon pelaku kejahatan dalam menunaikan misi?

Coba kita pikirkan dan renungkan…

Apa kita mau, anak-anak kita, saudara, dan orang-orang sekitar kita dipaksa untuk terbiasa melihat kekerasan, hingga saat mendengar berita mengenai seorang anak yang membunuh ibu kandungnya sendiri mereka hanya berujar, “Ah itu sih biasa, kemaren ada anak yang membunuh satu keluarga, dimutilasi lagi”.

Jika Anda bertanya kepada saya, dengan lantang saya menjawab, “TIDAK!!!

(terinspirasi saat libur kerja dan yang dapat disaksikan di TV hanya berita kriminal –dengan diselingi sinetron tentunya-)

July 24, 2008 Posted by | Opini | 14 Comments

Persib 2:3 Persija, Dewasalah Persib

Minggu 20 Juli 2008, bertempat di Stadion kebanggan urang Bandung, Sang Maung beraksi memperlihatkan kehebatannya berduel dengan kesebelasan Persija Jakarta. Banyak juga yang memprediksi klo pertandingan ini bakal berjalan rame, katanya sih musuh bebuyutan gecho lho..

Baru aja jalan 80-an detik, kang Zaenal Arif udah bikin bobotoh seneng, termasuk simkuring yang nonton di rumah. Kepikiran juga tuch klo Persib bakal ngamuk kek lawan Persela minggu kemaren. Ternyata Persija kuat mental euy terbukti dimenit 10 ngebales lewat pemaen asingnya, Abanda Herman. Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ada beberapa kejadian yang mungkin menarik buat dibahas. Pada ngliat ga kaos si Bastos, itu emang sengaja ga dikasih nama atawa kumaha, ampe akhirnya di babak kedua maksakeun pisan ditempel pake double tip. Selebihnya mengenai pergantian pemaen yang dilakukan oleh akang Jaya Hartono.

Suwita Pata out Hariono in

Rasanya coach pengen banget mengulang keperkasaan Persib saat menumpas Persela, terbukti dengan mengganti Suwita Pata yang notabene adalah deffensive midfilder dengan memasukkan Hariono yang lebih bermental menyerang. Tapi fatal neh -menurut saya lho- karena Eka Ramdani yang menggila di babak pertama jadi kehilangan teman yang dapat diandalkan untuk menahan serangan balik. Terbukti babak kedua Eka mati kutu karena harus bolak balik menyerang dan ikut bertahan.

Lorenzo Cabanas out Salim in

Klo ini sih masih sependapat lah. Saya ngeliat pergerakan Cabanas emang cukup membahayakan Persija, namun kontribusinya untuk tim bisa dikatakan kurang. Lebih banyak membuang peluang daripada memanfaatkannya, pokoknya buru-buru banget deh maennya.

Zaenal Arif out Atep in

Nah ini dia, coach nampaknya ingin mengembalikan posisi awal dari Hilton Moriera sebagai striker, dan Atep sebagai sayap kanan. Tapi apa ga terlambat ya? Entahlah yang pasti kang Jaya lebih ngerti dari saya yang cuman penikmat sepakbola.

Menjelang akhir pertandingan oknum bobotoh mulai deh merusak pertandingan yang saya pikir indah untuk ukuran sepakbola di Indonesia. Padahal sebelum penalti yang gagal itu, saya ngomong “wah bagus neh kek gini meskipun kalah tapi penontonnya ga rusuh”, eh eh eh ternyata..

Plis donk… udah pada gede… DEWASALAH PERSIB

Di dalam sebuah kesebelasan atau bisa dikatakan klub sepakbola terdiri dari 3 elemen penting:

  1. Manajemen klub, ini termasuk pelatih dan atasan-atasannya. Pihak ini sudah berupaya sedemikian rupa buat bikin Persib berjaya lagi dimusim ini dengan menggondol beberapa pemaen besar. So jangan ada pendapat klo pihak manajemen ga serius nanganin Persib
  2. Pemain, di musim lalu banyak sekali pemain yang gampang kepancing emosinya, tapi kemaren, dipertandingan yang sebesar kemaren, hampir tidak ada ungkapan emosi yang berlebihan dari pemain baik lokal maupun asing. That’s right, pemain pun udah berupaya ngasih kemampuan terbaiknya buat Persib
  3. Pendukung a.k.a bobotoh tea, bukan cuman Viking ato Bomber pokoknya semua orang yang ngedukung Persib. Saya rasa golongan inilah yang belum cukup berpikir dewasa buat ngerti klo yang namanya maen itu pasti ada kalah n ada menang. Juga ga mungkin Persib menang terus-terusan meski di kandang sendiri.

Klo ngerasa keputusan wasit yang merugikan, alangkah lebih baik jika setelah pertandingan Persib mengirimkan wakilnya ke Komdis Liga Super untuk ditindak lanjuti. Bukan malah merugikan Persib sendiri. Lihat kerusakan yang ditimbulkan di stadion Siliwangi, belum lagi di jalan-jalan, bahkan ada temen yang cerita klo di daerahnya (Dayeuh Kolot -red) beberapa bobotoh tanpa alasan yang jelas merusak mobil yang melintas dan kebetulan berplat B. Gila…

Apa masih kurang berpikir juga sanksi yang akan diterima Persib akibat kelakuan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Kan, ga ada untungnya, ruginya yang banyak

Ayolah buat sesama bobotoh, saya juga kesel Persib kalah. Tapi mari kita sama-sama mencoba untuk dewasa dalam menyikapi kekalahan. Mulai sekarang, kita bertindak menggunakan hati dan pikiran, bukan lagi bambu runcing, tos teu jaman atuh dulur….HIDUP PERSIB

July 21, 2008 Posted by | Opini | 16 Comments